kalo mau kenal dia kontak gue ajh siapa kali jodoh
ini nih cerpennya
SAHABAT
MATEMATIKA
Awal persahabatanku denganmu saat pelajaran
Matematika, di kelas 1 SMA. Aku melirik ke arahmu yang sedang mencatat dengan
seksama semua rumus yang diberikan oleh Pak Aziz di papan tulis. Aku menguap
menatapmu. Kau menoleh ke arahku.
“Ayo catat, Di..” ucapmu. Aku menoleh ke arah
teman-teman, bergosip, menggambar, mendengarkan lagu, dan tersisa segelintir
lagi yang mencatat sepertimu.
Sejak awal kesan yang kuterima tentang Pak Aziz
adalah membosankan. Baik pelajarannya maupun cara mengajarnya. Matematika
penting! Aku tahu. Wahai Pak Aziz, andai saja Anda lebih tegas, mungkin aku
akan lebih rajin memperhatikan Anda.
Jam pelajaran belum tuntas, Pak Aziz bersiap keluar
ruangan. Beliau menggulung kabel mic dan
juga sebuah taperecorder kuno
kesayangannya. Aku kembali menatapmu, Ikal, teman sebangkuku. Dan kau mendengus
pelan menatapku.
Keesokan harinya Pak Aziz kembali meghiasi
hari-hariku dengan pelajaran Matematikannya. Guru dengan rambut memutih itu
terlihat lelah saat jam pelajaran terakhir. Karena keadaannya yang mengharukan,
aku mencoba memperhatikannya saat menjelaskan. Walau aku sama sekali tidak
memahaminya, namun aku tetap berusaha terlihat memahami semuanya.
“Jangan sok mengerti!”
ejekmu sambil terkekeh geli. Aku ingin sekali menjitak kepalamu.
Pertemuan selajutnya Ulangan Harian Matematika. Aku
sama sekali tidak belajar. Karena aku tidak tahu apa yang harus dipelajari. Aku
memang sungguh keterlaluan. Dan seperti biasa, aku mengandalkanmu dalam urusan
ini. Sahabat Matematikaku!
Walau kau terlihat bingung, namun kau selalu
menemukan jawabannya. Kau cerdas! Dan kau murah hati untuk memberikan jawaban
itu kepadaku. Ya, kau memang sahabatku, mau membantuku dikala aku butuh.
“Di, ada tugas dari Pak Aziz, membuat kelompok teman
sebangku.” Katamu. Aku tidak menjawab. Dengan pasrah kau mengerjakan sendirian.
Maafkan aku sahabat!
Begitulah sampai seterusnya. Pak Aziz menjelaskan,
aku menggambar, dan kau memperhatikan. Pak Aziz memberikan rumus-rumus, aku
mencoret-coret, dan kau mencatat. Pak Aziz memberikan tugas kelompok, kau yang
mengerjakan. Dan saat ulangan, hanya kaulah yang kuandalkan!
Aku menjadi buta akan Matematika. Karena aku
mendapat pengajaran dari guru yang aku anggap lemah. Aku tidak menyukai guru
yang lemah, karena membuatku semakin malas. Aku memang lebih menyukai guru yang
tegas, agar aku bersikeras belajar hingga tuntas.
Bukan aku tidak menghargai Pak Aziz, justru aku sama
sekali tidak tega melihatnya lelah. Maka aku mencoba diam, tidak membuat
kerusuhan saat jam pelajarannya.
Ulangan Akhir Semester..
Malam sebelum ulangan Matematika kamu mengirim SMS
kepadaku. Aku mengeluh, kali ini aku
tidak bisa mengandalkanmu. Kamu berada di ruang lain.
Belajarlah
Di. Hafalkan rumusnya, besok aku akan mengajarimu.
Itu isi SMS-mu malam itu. Kali ini aku tidak
membantahmu, aku berusaha belajar. Namun, sungguh tidak membuahkan hasil
sedikitpun. Aku malah tertidur lelap saat belajar.
Keesokan harinya, aku sudah pasrah akan nasibku. Aku
diam karena tidak bisa menjawab 1 soalpun dari 25 soal itu. Tuhan memberiku kesempatan, teman-temanku
berbagi jawaban denganku hingga lembar jawabanku terisi penuh. Aku bertemu
denganmu seusai ulangan. Kau lantas menghampiriku.
“Di, gimana tadi ulangannya, bisa?” tanyamu
antusias. Aku menggeleng lemah.
Kau menepuk punggungku untuk menegarkanku kembali. Melihat
semangat dan usahamu untuk membantuku selama ini, membuatku merasa bersalah
karena selalu menyusahkanmu.
Aku
akan berjuang bersamamu untuk menakhlukkan Matematika! Tekatku
dalam hati.
Nama saya Risdiana
Nissa. Asal Sidoarjo. Hobby saya, membaca dan menulis.
P.S: Diana jomblo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar