Minggu, 12 Mei 2013

fisika

fisika...
oh fisika...
kenapa kau dan aku harus dipertemukan?
mengapa aku harus mengenal dirimu?
kenapa kita begitu susah untuk dipisahkan?
dirimu terlalu sulit untukku mengerti...
dirimu terlalu rumit untukku cerna..
ketika ku coba untuk mengerti dirimu dirimu seakan berpaling dariku
ketika kucoba untuk mecerna perkataanmu kau hanya berbisik
fisika oh fisika....
kenapa ini harus terjadiii?
apa yg harus kulakukan?
apa aku harus terdiam?
menurutku TIDAK
semua harus diselesaikan
semua harus kita bicarakan
aku akan mencoba untuk mengerti dirimu meskipun sulit
akan kucerna semuanya meskipun rumit
jika kau ada di atas gunung akan kudaki gunung itu
jika kau ada di tengah laut akan ku sebrangi lautan
semangat dan tekadku hanya untukmu
SEMAGAT !

Rabu, 18 Januari 2012

cerpen bagus

ini cerpen dari temen gue yang jomblo ngenes. jadi dia punya waktu buat bikin cerpen
kalo mau kenal dia kontak gue ajh siapa kali jodoh 
ini nih cerpennya


SAHABAT MATEMATIKA

Awal persahabatanku denganmu saat pelajaran Matematika, di kelas 1 SMA. Aku melirik ke arahmu yang sedang mencatat dengan seksama semua rumus yang diberikan oleh Pak Aziz di papan tulis. Aku menguap menatapmu. Kau menoleh ke arahku.

“Ayo catat, Di..” ucapmu. Aku menoleh ke arah teman-teman, bergosip, menggambar, mendengarkan lagu, dan tersisa segelintir lagi yang mencatat sepertimu.

Sejak awal kesan yang kuterima tentang Pak Aziz adalah membosankan. Baik pelajarannya maupun cara mengajarnya. Matematika penting! Aku tahu. Wahai Pak Aziz, andai saja Anda lebih tegas, mungkin aku akan lebih rajin memperhatikan Anda.

Jam pelajaran belum tuntas, Pak Aziz bersiap keluar ruangan. Beliau menggulung kabel mic dan juga sebuah taperecorder kuno kesayangannya. Aku kembali menatapmu, Ikal, teman sebangkuku. Dan kau mendengus pelan menatapku.

Keesokan harinya Pak Aziz kembali meghiasi hari-hariku dengan pelajaran Matematikannya. Guru dengan rambut memutih itu terlihat lelah saat jam pelajaran terakhir. Karena keadaannya yang mengharukan, aku mencoba memperhatikannya saat menjelaskan. Walau aku sama sekali tidak memahaminya, namun aku tetap berusaha terlihat memahami semuanya.

“Jangan sok mengerti!” ejekmu sambil terkekeh geli. Aku ingin sekali menjitak kepalamu.

Pertemuan selajutnya Ulangan Harian Matematika. Aku sama sekali tidak belajar. Karena aku tidak tahu apa yang harus dipelajari. Aku memang sungguh keterlaluan. Dan seperti biasa, aku mengandalkanmu dalam urusan ini. Sahabat Matematikaku!

Walau kau terlihat bingung, namun kau selalu menemukan jawabannya. Kau cerdas! Dan kau murah hati untuk memberikan jawaban itu kepadaku. Ya, kau memang sahabatku, mau membantuku dikala aku butuh.

“Di, ada tugas dari Pak Aziz, membuat kelompok teman sebangku.” Katamu. Aku tidak menjawab. Dengan pasrah kau mengerjakan sendirian. Maafkan aku sahabat!

Begitulah sampai seterusnya. Pak Aziz menjelaskan, aku menggambar, dan kau memperhatikan. Pak Aziz memberikan rumus-rumus, aku mencoret-coret, dan kau mencatat. Pak Aziz memberikan tugas kelompok, kau yang mengerjakan. Dan saat ulangan, hanya kaulah yang kuandalkan!

Aku menjadi buta akan Matematika. Karena aku mendapat pengajaran dari guru yang aku anggap lemah. Aku tidak menyukai guru yang lemah, karena membuatku semakin malas. Aku memang lebih menyukai guru yang tegas, agar aku bersikeras belajar hingga tuntas.

Bukan aku tidak menghargai Pak Aziz, justru aku sama sekali tidak tega melihatnya lelah. Maka aku mencoba diam, tidak membuat kerusuhan saat jam pelajarannya.

Ulangan Akhir Semester..

Malam sebelum ulangan Matematika kamu mengirim SMS kepadaku.  Aku mengeluh, kali ini aku tidak bisa mengandalkanmu. Kamu berada di ruang lain.

Belajarlah Di. Hafalkan rumusnya, besok aku akan mengajarimu.

Itu isi SMS-mu malam itu. Kali ini aku tidak membantahmu, aku berusaha belajar. Namun, sungguh tidak membuahkan hasil sedikitpun. Aku malah tertidur lelap saat belajar.

Keesokan harinya, aku sudah pasrah akan nasibku. Aku diam karena tidak bisa menjawab 1 soalpun dari 25 soal itu.  Tuhan memberiku kesempatan, teman-temanku berbagi jawaban denganku hingga lembar jawabanku terisi penuh. Aku bertemu denganmu seusai ulangan. Kau lantas menghampiriku.

“Di, gimana tadi ulangannya, bisa?” tanyamu antusias. Aku menggeleng lemah.

Kau menepuk punggungku untuk menegarkanku kembali. Melihat semangat dan usahamu untuk membantuku selama ini, membuatku merasa bersalah karena selalu menyusahkanmu.

Aku akan berjuang bersamamu untuk menakhlukkan Matematika! Tekatku dalam hati.


Nama saya Risdiana Nissa. Asal Sidoarjo. Hobby saya, membaca dan menulis.
P.S: Diana jomblo